about
★ chat
★ links
★ archives
★ follow
★ time
Freitag, 17. September 2010
tutor and tortora tortured me. er.. no, i think i tortured myself @ 19:50

Beberapa waktu lalu saya sempat down karena keadaan saya. Banyak LI (learning issue) beserta istilah-istilah aneh di dalamnya yang sulit saya mengerti. Kurangnya spontanitas saya untuk "aktif partisipatif" dalam berbagai kegiatan. Dan yang lebih melengkapi rasa down saya, saya merasa saya termasuk kaum minoritas. Ok, sebut saya lebay, tapi ya memang itu yang saya rasakan.
Gimana mau ngerjain LI kalau saya saja tidak mengerti buku apa yang harus saya baca? Dan saya baru menyadari kalau logika saya benar-benar payah.
Gimana mau jadi "calon dokter" yang punya talenta untuk jadi decision maker dan community leader kalau ngurusin spontanitas diri saja tidak becus?
Gimana saya mau berhasil kalau saya terus seperti ini?
Gimana coba?
Dan saya benar-benar frustasi.
Di tengah keadaan yang hectic saat saya dan teman-teman saya mengerjakan LI (yang diselingi ketawa haha-hihi. Seems fun, uh? Tapi itu yang bikin kita frustasi karena LI gak selesai-selesai!!), saya iseng online msn. Ternyata salah satu teman SMA saya pun sedang online. Setelah bertukar sapa dan saling menanyakan kabar, saya pun mulai bercerita tentang keadaan saya saat itu. Pertama, saya bercerita tentang bagaimana saya menjadi minoritas di sana. Tentang orang-orang sana yang menatap temannya seakan-akan berkata lu-lagi-lu-lagi. Lalu dia berkata, "Dulu toh kita juga dari minoritas waktu SMA (dari SMP yang minoritas lulusannya masuk SMA 8), tapi kan kita bisa bertahan."
Yap, di situ saya baru ngeh kalau dulu saya juga merasa seperti itu. Merasa sendiri dan berjuang untuk survive. Tapi toh saya menemukan teman-teman yang membantu saya dan bisa mengerti saya. Karena kita dulu adalah satu, siswa-siswi SMA 8 Jakarta. Dan sekarang pun satu, alumni SMA 8 Jakarta. Sama saja dengan sekarang. Saya melihat Hasna, room-mate asrama saya, lalu Dhita, Junet, Anne, Cipong, Echa. Belum lagi Andi si ketua angkatan dan banyak teman-teman serta akang-teteh angkatan atas yang mau membantu. Minoritas seharusnya bukan jadi alasan saya untuk takut. Dan semua ketakutan itu hanya perasaan saya saja. Mereka ternyata nice kok.
Yang kedua, saya curhat bagaimana agak shocknya saya ketika diberi LI macam-macam dan saya bingung, bingung mau mengerjakan apa, cari di mana, dan tanya siapa. Dan sekali lagi teman saya menjawab, "If you can survive in 8 then you can survive anywhere in the world." Sekali lagi ini agak lebay tapi ini cukup nampol bagi saya. Mengingatkan saya rasanya dulu seminggu di 8 berasa setahun, tapi toh akhirnya saya lulus juga. Semuanya bisa berlalu dengan baik jika dijalani. Saya pasti bisa bertahan. Insya Allah.
Teman, that was a great conversation. Terima kasih telah membuka pikiran saya :)
I'm listening to : Pack Up - Eliza Doolittle
Eingestellt von Andin @ 19:50  |
|
| 3 Comments: |
-
hehe di 8 asik kok di kampus gw nih yg seminggu berasa sebulan haha.
ngomong2 di fkunpad 010 kan ada dilla, anaknya baik kok, pinter dan rajin juga, dia 8 09, kalo ketemu ajak ngobrol aja kan sesama alumni 8 hehe
-
wahaha gw tau kok no. mantan lo kan? ;D
-
|
| |
| << Home |
| |
about me
about me
time
|
hehe di 8 asik kok di kampus gw nih yg seminggu berasa sebulan haha.
ngomong2 di fkunpad 010 kan ada dilla, anaknya baik kok, pinter dan rajin juga, dia 8 09, kalo ketemu ajak ngobrol aja kan sesama alumni 8 hehe